Tuesday, May 10, 2011

I'm Not Moving


Going back to the corner

where I first saw you

Gonna camp in my sleeping bag

I'm not gonna move


"Pernah nggak kamu cinta sebegitu dalam sama seseorang?"

Mendengar pertanyaanku itu, Keira, sahabatku, mendongak dari majalah yang sedang dibacanya.

"Sebegitu dalam? Maksudmu... cinta mati?"

"Yah... semacam itulah. Jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Jatuh berkali-kali pada orang yang sama. Sampai kamu yakin bahwa nggak bakal ada orang lain yang bisa kamu cintai seperti kamu mencintainya,” jelasku, sambil menyesap hot green tea yang kusadari mulai dingin.


Keira menatapku dengan tatapan yang sudah sangat kukenal. Sepertinya dia menyadari kemana arah pembicaraanku.

“Kayak kamu mencintai Ian, maksudmu?”

Aku diam saja.

Keira menghela napas dalam-dalam. Aku tahu, dia pasti bosan setengah mati mendengar curhatanku tentang ini.

Tapi, mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa bosan setengah mati mencintai Ian.

“Wake up, Sher. Kamu mau nungguin dia sampai kapan? Kamu nggak bisa begini terus. Bahkan sampai tempat makan pun kamu selalu milih kafe ini. Duduk di spot ini. Ini gila namanya,” Keira geleng-geleng kepala.

Kualihkan pandangan ke arah jendela di sampingku.

Ya. Di pojokan cafe inilah kali pertama aku bertemu dengan Ian. Pertemuan pertama yang begitu biasa saja, namun menghasilkan perasaan luar biasa di kemudian hari.

Senyumnya, tawanya, caranya menyanyi, caranya menghibur, semuanya terpatri jelas dalam ingatanku.

And yes, i’m crazy on him.


I know it makes no sense

but what else can I do?

How can I move on

when I'm still in love with you?


“Move on, Sher.”

Ah, kata-kata itu lagi. Entah berapa kali aku mendengarnya. Bukan hanya dari mulut Keira seperti barusan, namun juga dari mulut orang-orang yang mengenalku.

Ian Kusumawidjaja adalah seorang flight attendant. Jadi, dia terbang kesana kemari. Tempat tinggal aslinya bahkan nun jauh di sana.

“Sampai detik ini, aku masih nggak paham. Kok bisa sih kamu mencintainya begitu dalam? Toh kalian hanya bertemu dan dekat dalam waktu sebulan. Setelah itu, dia menghilang nggak ada kabar.”

Kusandarkan punggungku ke sofa yang empuk. Tiba-tiba merasakan lelah karena menahan rindu yang luar biasa. Ian memang tidak pernah ada kabar sejak kepergiannya. Kuhubungi beberapa kali, tetap sama. Tak ada jawaban. Seperti lenyap di telan bumi.

“Aku sendiri nggak tahu alasanku jatuh cinta sebegitu dalam padanya, Kei. I just fall. Lagian, bukankah kita tidak memerlukan alasan untuk mencintai seseorang?”

Keira mengernyit, potongan french fries menggantung di tangannya.

“Nggak perlu? Bukannya kita mencintai seseorang karena... ehm.. dia ganteng, pinter, baik, or whatever lah itu?”

Aku menggeleng mantap. “Nggak. Nggak perlu alasan untuk bisa mencintai. Sebab, ketika alasan itu hilang/pergi, cintaku nggak bakal ikut hilang/pergi bersama alasan itu.”

Keira terdiam, merenung.

“Hmm.. iya sih. Tapi... Halooo? Dia pramugara, Sherine sayang. Dia bisa aja enak-enakan punya cewek cantik di luar sana. Sementara kamu duduk diam menunggunya di sini. Apa itu nggak useless namanya?”

“Well, that’s my consequences, Kei. Aku tahu resikonya. Dan ini pilihanku. Aku memilih untuk tidak membuka hati dan menunggunya. I know it’s sounds crazy. But, i willing to take the chance.”

Keira menghela napas, menyeruput iced frappucino sambil geleng-geleng tak habis pikir.

“So... you’ll be right here waiting? Sampai tua? Keukeuh nggak mau move on melupakannya? Walaupun ada banyak cowok yang lebih ganteng dan hebat di luar sana yang mengantri mendapatkanmu?”

Aku tersenyum. Ah, Keira pasti sudah tahu jawabanku. Itu pertanyaan retoris.

“I’m not moving, Kei. Not yesterday, not now, and never ever. Entah bagaimana... aku punya keyakinan kuat di hatiku, bahwa suatu saat dia akan kembali padaku. Entah kapan, entah berapa lama, aku yakin dia akan kembali ke sini.”


***

Cause if one day you wake up

and find that you're missing me

and your heart starts to wonder

where on this earth I could be


Dua tahun berlalu sejak obrolanku dengan Keira waktu itu. Dan aku masih sama. Masih tetap pada pendirianku waktu itu.

Aku sedang duduk sendirian di pojokan kafe, seperti biasa, ketika merasakan getaran itu.

Drrtt...

Ponselku bergetar. Dari nomor yang tidak kukenal.

“Halo... Sherine?”

Suara itu.

Ya Tuhan... Ian?

I must be dreaming...

Nggak mungkin.

“Halo? Sher? Ini Ian. Masih inget nggak?”

Apa aku salah dengar? Tapi itu benar Ian.

Dalam sekejap aku mengalami degradasi intelejensi. Blank. Lidah kelu. Otak macet.

“Halo? Halo? Ini bener nomornya Sherine kan?”

“E..eh.. iya, Ian? a..pa?”

Terdengar gelak tawanya. Tawa khasnya yang selalu kurindukan.

“Kok diem aja sih? Kirain salah nomor. Kirain kamu udah lupa sama aku.”

“...”

“Oh iya, aku lagi di kotamu lho.”

“...”

“Halo? Tuh kan, malah bengong lagi. Jangan kebanyakan bengong neng, apalagi di pojokan. Sendirian pula. Ntar kesambet lho.”

Hah? Spontan aku menyapukan pandangan ke seluruh penjuru kafe, mencari-cari sosoknya. Kok dia bisa tau aku sendirian di pojokan?

“Kok.. k.. kamu tahu aku sendirian di pojokan? Kamu di mana?” mataku masih mencari-cari dengan liar ketika akhirnya aku menemukannya.


Thinkin maybe you'll come back

here to the place that we'd meet

And you'll see me waiting for you

on the corner of the street


Rambut jabriknya. Mata elangnya. Lesung pipitnya. Bahkan kemeja polosnya. Sama. Cara berjalannya pun masih sama. Itu dia.

Entah bagaimana, tahu-tahu saja dia sudah sampai di hadapanku.

Hmmm.. Bau parfum yang sama.

Dia tersenyum. Senyum yang sangat kuingat.

“Hai, Sher. How are you?”

Ponselku rasanya hampir terjatuh dari tanganku. Ragaku lemas. Aku terduduk di sofa.

“K.. kamu.. kenapa.. bisa ada di kafe ini?”

“Hmm.. aku cuma ngikutin firasatku aja sih. Firasatku mengatakan, kamu ada di sini. So, here i am. Ah, kangen banget aku sama kamu, Sher...”


So I'm not moving, I'm not moving...


***


*Inspired by The Man Who Can’t Be Moved – The Script


oleh Hilda Nurina

@hildabika

Dimuat dalam Kumpulan Cerpen #MusicProject yang diterbitkan Nulisbuku

Thursday, April 21, 2011

Percakapan Sore Itu



Aku dan kamu sedang menikmati segelas cappucinno di kedai kopi langganan kita. Tertawa-tawa mendengar lelucon jayusmu. Ketika tiba-tiba wajahmu mendadak serius.

“Kenapa, Bim?” tanyaku, mengangkat alis.

“Kenapa ya, aku nggak bisa ngelupain Luna?”

Ah, topik ini lagi.

“Hahaha. Nggak bisa ngelupain gimana? Bukannya pacarmu banyak?”

“Iya sih. Semua cewek udah aku cobain…”

“Cobain? Emang makanan!” Potongku. Kutonyor kepalamu dengan bercanda. Gemas.

“…tapi diantara semuanya, nggak ada yang bisa menandingi Luna…” lanjutmu, dengan tatapan menerawang. Tak menghiraukan toyoranku.

Aku menghela napas.

“Karena dia cinta pertamamu.”

“Cinta pertama. Hmm.. mungkin. Emang kamu percaya sama cinta pertama?”

“Iya.”

Tiba-tiba kamu menoleh dengan terkejut.

“Kamu? Playgirl yang punya cowok bejibun? Percaya hal beginian? Kirain kamu nggak percaya sama yang namanya cinta, Nin!”

Lagi-lagi aku menonyor kepalamu. “Sialan. Heh, aku emang sering gonta ganti pacar. Tapi aku bukan playgirl tau! Itu karena belom ada yang cocok aja. Kamu kan tau sendiri aku gampang ilfil sama cowok.”

“Aduh.. Sakit tau! Heran aku, kamu galak begini, masih banyak aja yang suka. Kalau aku sih ogah suka sama kamu!” gerutumu sambil mengusap-usap kepala.

“Yee, siapa juga yang mau sama kamu. Aku juga ogah sama playboy kayak kamu.”

“Hahaha. Kita kan sebelas dua belas nin. Udah, nggak usah saling ngatain deh. Haha. Btw, emang siapa sih cinta pertamamu?”

“Rahasia.”

Kamu mengernyit. Tampak berpikir keras. Mencoba mengingat-ingat satu persatu cowok yang pernah kupacari. Mimik mukamu yang lucu membuatku terbahak-bahak. Dan tawaku makin membuatmu kesal.

“Perasaan, sejak kita bersahabat dari kecil, aku nggak pernah tau kamu pernah jatuh cinta sama cowok. Kayaknya semua cowok kamu putusin dengan enteng tuh.”

“Ada kok. Tapi aku memang nggak pernah jadian sama dia. Hahaha. Kamunya aja yang nggak tau.”

“Hah? Siapa sih orangnya?”

“Udah ah, kamu nggak perlu tau. Orangnya juga udah punya cewek kok.”

“Serius? Kasiaaan…” ledekmu sambil tertawa. Ringan tanpa beban.

Aku ikut tertawa. Meski hatiku berdenyut sakit.

Cinta pertamaku. Adalah satu-satunya pria yang bisa membuatku jatuh cinta. Dari dulu hingga kini. Bahkan sampai detik ini.

Cinta pertamaku. Adalah pria yang membuatku gonta ganti pacar karena seberapa banyak pun aku mencoba, tetap tidak ada yang bisa menandingi dirinya.

Cinta pertamaku itu…

Kamu.


Ditulis tanggal 21 Desember 2010
oleh
(hil)

pernah dimuat di sini

Wednesday, July 14, 2010

Gossip Girl Season 3



Nate: Two years ago at the masquerade ball, I tried to tell you I loved you.
Serena: You loved me?
Nate: Of course I did. You were the most beautiful, alive person I've ever known.


Oh God... i love Nate and Serena. They're my favourite couple in Gossip Girl. They're just meant to be together.
well, kemarin saya maraton nonton DVD Gossip Girl season 3.
and i love this season.
Soalnya, akhirnya Nate sadar dan ngaku kalau dia mencintai Serena.



Sebenernya, waktu si Nate ngaku, Serena lagi menjalin hubungan singkat sama Tripp, sepupunya Nate (yang udah punya istri -.-)
makanya, waktu Nate minta supaya Serena milih Nate, serena memilih tetap bersama Tripp.
Tapi Tripp ternyata nggak bisa menceraikan istrinya.
bahkan, Tripp meninggalkan serena sendirian di dalam mobil saat serena terluka parah akibat kecelakaan mobil. *padahal yang nyupir ya si Tripp itu! nggak bertanggung jawab banget kan?*

Untungnya, ada Nate. Well, he looks like a prince charming who saved the princess...
Nate juga jagain Serena terus. Makanya, Serena luluh dan sadar kalau dia juga cinta sama Nate.



Yaiyyy! Akhirnya... Nate sama Serena!

Nggak tahu kenapa, sebenernya sejak season 1, saya memang lebih suka kalau Serena sama Nate (bukan Serena-Dan atau Nate-Blair)
Ketika akhirnya Serena-Nate bisa bersama, saya seneng banget ngelihatnya.
They're just meant to each other.



Apalagi, chemistry mereka tuh dapet banget lho.
Mereka full of passion.
Contohnya aja kayak adegan di ruang mantel, di dapur, dll
Well, adegan breakfast yang melibatkan strawberry, whipped cream, sama caramel di dapur, jadi adegan yang paling dapet chemistry-nya. *dan bisa dicontoh tuh* hehehe ;p
Si sutradara juga bilang kok, “Blake and Chace have amazing on-screen chemistry. Their scenes are some of the most fun and sexy we have ever shot.”



Sayangnya, bahkan di serial GG pun happy ending doesn't exist.
Di episode terakhir season 3 ini, semuanya berakhir ngambang dan kacau.
*ya jelaslah, biar penonton (termasuk saya) penasaran sama season 4 nya*

Di episode terakhir season 3 ini Serena sama Nate marahan. Serena ketahuan kissing sama Dan. Padahal sebenernya, itu nggak sengaja soalnya Serena lagi curhat sama Dan. Curhatnya pun karena Serena merasa Nate terlalu mengatur dan tidak memihak Serena tentang masalah Ayahnya. Saat itu, yang bisa dipercaya dan mendukung Serena, cuma Dan. Yah, jadilah Serena ketiduran di tempat tidurnya Dan *nggak make out kok*
Sebenernya Nate mau memaafkan Serena *kayaknya dia emang cinta banget sama Serena* karena dia tahu itu cuma sekedar ciuman tanpa perasaan.
Tapi, Serena pengin menyendiri dulu. Walaupun, ironisnya, Serena bilang, "i love you Nate. I really do." hikss.. Serena pengin menyendiri untuk dirinya dulu.
Yaahhhh... pisah deh :(
*saya benci lihat pasangan yang serasi, harus berpisah*

Tapi, yang paling ngenes di episode terakhir season ini adalah
kisah Chuck-Blair

Mereka kan lagi berantem besar tuh. Blair yang lagi marah besar sama Chuck, belum bisa maafin Chuck. Nah, chuck minta satu kesempatan lagi buat membuktikan cintanya sama Blair.
Blair disuruh datang jam 7 di... puncak Empire State Building! *bayangin coba! romantis banget kan?*



Chuck bilang, kalau Blair nggak datang, berarti mereka benar-benar putus selamanya.

Chuck udah nyiapin bunga sama cincin. Sebenarnya, dia mau melamar Blair!
Sayangnya, Blair telat datang karena Dorotha *pelayannya* melahirkan

Nah, Chuck yang ngira Blair udah bener-bener nggak mau sama dia, pulang dengan patah hati. Parahnya, Chuck ketemu sama Jenny yang juga patah hati karena tahu kalau Nate memang cuma cinta sama Serena. Jadilah, mereka... *isi sendiri*

Sebenernya, Blair udah nemuin Chuck dan njelasin kenapa dia telat. Chuck juga udah mau bilang "will you..." *maksudnya, will you marry me*
Eh, pada detik itu juga ketauan kalau dia abis tidur sama Jenny
Jelas aja Blair marah semarah-marahnya dan pergi.

Parahnya lagi, di jalan yang sepi, saat Chuck jalan sendirian, Chuck dirampok dan ditembak!

Sayangnya season 4 nya masih premiere september nanti di USA. Hiiikksss...
Padahal saya penasaran setengah mati.
Chuck mati nggak sih setelah di tembak perampok?
Serena sama Nate bisa balik nggak sih?
dan sebagainya.

saya jadi mikir, sebenernya, happy ending itu emang nggak ada. maksud saya... waktu terus berputar kan?
setelah happy, muncul masalah baru, kemudian sad, trus baru happy lagi. happy-sad-happy-sad-begitu seterusnya.

jadi ending kita sebagai manusia, adalah saat kita menutup mata.
soalnya nih, apa coba yang mau dibilang sebagai happy ending? pernikahan? belum tentu.
justru drama baru, akan terjadi setelah pernikahan. bahkan, ada yang sampai cerai.

So, menurut saya, happy ending kita dengan seseorang (orang yang mencintai kita dan kita cintai) adalah ketika kita menutup mata untuk yang terakhir kalinya.
till very last breath.
itu baru bisa disebut ending.

well, it's just my opinion.

xoxo,
(hil)

P.S: saya benar-benar nggak sabar nunggu season 4 nya Gossip Girl!

Recent Comments

Introduction

Labels

Followers

Followers

Labels

Blogroll